" Hidup untuk perjuangan bagi orang lain jauh lebih berarti daripada untuk diri sendiri..."

Holong Mangalap Holong

HoRaS HaBaTaKoN ! 

Holong Mangalap Holong

Tanganta marsitogu-toguan
Nang rohattape marsitomu-tomuan
Tama hita marsielek-elekan
Tonditai ma tutu marsigom-goman

Tabo do akka namartinodohon
Molo saroha mangula siulaon
Holong ma tabahen mangalap holong
Marsiurupan disude na sitaonon

Dihuta anggita siappudan
Diparmahana anakta paggoaran
Amangta nang inangta tu balian
Ibotota ma paradehon panganan

Tupa ma hita marsituppolan
Molo adong dihitaon parsalisian
Holong ma tabahen mangalap holong
Sai horasma jala gabe hitaon

Tonani da oppui
Opputta sijolo-jolo tubu
Somba marhula-hula
Sai manat mardongan tubu
Elek ma hita marboru
Sai ganup ma tutu maroha
Horas tondi madingin
Sai pir tondi matogu
Hita martahi sakkap
Sai Tuhanta mamasu-masu 


HORAS

HoRaS HaBaTaKoN ! 

 
horas partuturan orang batak

Holong masihaholongan = kasih mengasihi
On do sada dalan nadumenggan = inilah jalan yang terbaik
Rap tu dolok rap tu toruan = seia sekata
Asa Taruli pasu-pasu = supaya kita diberkati
Saleleng di hangoluan=selama kita hidup.
 


HORAS adalah suatu cita-cita atau harapan yang mengambarkan bahwa setiap orang batak harus hidup saling mengasihi karena inilah jalan yang terbaik dan diwujudkan dengan seia sekata supaya kita mendapat berkat selama hidup kita.

HORAS TONDI MADINGIN, HORAS PIR TONDI MATOGU

HoRaS HaBaTaKoN ! 


Pada pepatah (umpasa):
Mardangka ma baringin, di mual Pulo Batu,
Horas tondi madingin, horas pir tondi matogu
Tiur dalan bolusan, tio aek dapotan
Dapot ma na ni luluan, jumpang ma na jinalahan

Terjemahannya kira-kira begini:
"Tumbuhlah cabang pohon beringin, di tepi mata air Pulo Batu.
Semoga jiwa nan kuat kian nyaman sentosa, sejahteralah jiwa yang kukuh semakin teguh.
Teranglah jalan yang dilalui, mendapatkan air yang jernih.
Tercapailah segala yang diharapkan, dan memperoleh yang dicita-citakan."

Makna kata: pir=keras, padat; tondi=sukma, jiwa;  madingin= sejuk, nyaman, sentosa; matogu=kuat, kukuh, tidak goyah; dapot=dapat, tercapai; luluan=yang dicari (asal kata lulu=cari); jumpang=ketemu, bertemu, tercapai; jinalahan=yang dicitakan (asal kata nala=marak, nyala)  

KONSEP "RAJA" MENURUT BATAK

HoRaS HaBaTaKoN ! 

Konsep "Raja" bagi orang Batak sangat sering digunakan dalam berbagai aspek dan tatanan kehidupan masyarakatnya.  Seperti pada pemberian nama Jamalim = Raja alim, Jamalo = Raja Pintar. Bahkan ada istilah "Sude do halak batak raja. Di son raja di san raja."

Karena itu pengertian "Raja" pada Suku Batak:
  1. Sebagai kedudukan,  jabatan atau penguasa tertinggi, yaitu seseorang yang  memegang wewenang dan kekuasaan memimpin suatu bangsa,  wilayah atau kerajaan, atau dalam bahasa Inggris = King. Sebagai pemimpin pemerintahan kerajaan. Mis: Raja Sisingamangaraja.
  2. Orang yang besar kuasanya pengaruhnya di suatu lingkungan.  Contoh: Raja Huta = sebagai pemimpin huta (kampung), bisanya si pungka huta (yang membuka kampong) pada masa Batak Kuno.  Semua keturunan marga pembuka huta juga disebut Raja.
  3. Orang yg mempunyai keistimewaan atau keahlian khusus. Mis: Raja Parhata = juru bicara, pembawa acara adat yang ahli adat.
  4. Status dalam adat atau tata kekerabatan. Misal : Raja ni Hula-hula (Pihak keluarga pemberi perempuan dalam suatu perkawinan Batak); Si Raja Ibot = ito (laki-laki).
  5. Gelar kehormatan. Misal: Si Raja Batak selaku leluhur suku Batak (Toba).
  6. Sapaan hormat. Misal: “Amang Rajanami!”  (bapak yang terhormat/bapak yang kami hormati).
  7. Sikap dan perilaku: yang mencerminkan akal pikiran dan budi pekerti yang terpuji serta terhormat. Jika dikatakan "Ndang diparaja-raja asa raja (maknanya: Seseorang dikatakan raja bukan karena berlagak atau diperlakukan bagai raja, tetapi karena sikap dan perbuatannya seseorang pantas dijuluki "raja").
 
 
 

Filsafah Orang Batak Toba Dalam Dalihan Natolu

HoRaS HaBaTaKoN ! 

Kalau diartikan langsung “Dalihan Natolu” adalah “Dalihan” artinya sebuah tungku yang dibuat dari batu, sedangkan “Dalihan Natolu” ialah tungku tempat memasak yang diletakkan diatas dari tiga batu. Ketiga dalihan yang dibuat berfungsi sebagai tempat tungku tempat memasak diatasnya. Dalihan yang dibuat haruslah sama besar dan diletakkan atau ditanam ditanah serta jaraknya seimbang satu sama lain serta tingginya sama agar dalihan yang diletakkan tidak miring dan menyebabkan isinya dapat tumpah atau terbuang.

Dulunya, kebiasaan ini oleh masyarakat Batak khususnya Batak Toba memasak di atas tiga tumpukan batu, dengan bahan bakar kayu. Tiga tungku jika diterjemahkan langsung dalam bahasa Batak Toba disebut juga dalihan natolu. Namun sebutan dalihan natolu paopat sihalsihal adalah falsafah yang dimaknakan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak.

Sehari-hari alat tungku merupakan bagian peralatan rumah yang paling vital untuk memasak. Makanan yang dimasak baik makanan dan minuman untuk memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarga. Biasanya memasak di atas dalihan natolu terkadang tidak rata karena batu penyangga yang tidak sejajar. Agar sejajar maka digunakanlah benda lain untuk mengganjal. Dalam bahasa sehari-harinya kebanyakan orang Batak Toba tambahan benda untuk mengganjal disebut Sihal-sihal.

Contoh umpasa Batak Toba yang menggunakan kata Dalihan Natolu : “Ompunta naparjolo martungkot sialagundi. Adat napinungka ni naparjolo sipaihut-ihut on ni na parpudi. Umpasa itu sangat relevan dengan falsafah dalihan natolu paopat sihal-sihal sebagai sumber hukum adat Batak.”

Apakah yang disebut dengan dalihan natolu paopat sihal-sihal itu? dari umpasa di atas, dapat disebutkan bahwa dalihan natolu itu diuraikan sebagai berikut :
Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Angka na so somba marhula-hula siraraonma gadongna, molo so Manat mardongan tubu, natajom ma adopanna, jala molo so elek marboru, andurabionma tarusanna.

dalihan natolu falsafah orang batak toba

Berikut penjabaran singkat tentang makna filsafah Dalihan Natolu dalam kehidupan Batak Toba serta contoh penerapan bersosial dalam adat Batak Toba.

1. Somba marhula-hula
Hula-hula dalam adat Batak adalah keluarga laki-laki dari pihak istri atau ibu, yang lazim disebut tunggane oleh suami dan tulang oleh anak. Dalam adat Batak yang paternalistik, yang melakukan peminangan adalah pihak lelaki, sehingga apabila perempuan sering datang ke rumah laki-laki yang bukan saudaranya, disebut bagot tumandangi sige. (artinya, dalam budaya Batak tuak merupakan minuman khas. Tuak diambil dari pohon Bagot (enau). Sumber tuak di pohon Bagot berada pada mayang muda yang di agat. Untuk sampai di mayang diperlukan tangga bambu yang disebut Sige. Sige dibawa oleh orang yang mau mengambil tuak (maragat). Itulah sebabnya, Bagot tidak bisa bergerak, yang datang adalah sige. Sehingga, perempuan yang mendatangi rumah laki-laki dianggap menyalahi adat.

Pihak perempuan pantas dihormati, karena mau memberikan putrinya sebagai istri yang memberi keturunan kepada satu-satu marga. Penghormatan itu tidak hanya diberikan pada tingkat ibu, tetapi sampai kepada tingkat ompung dan seterusnya.

Hula-hula dalam adat Batak akan lebih kelihatan dalam upacara Saurmatua (meninggal setelah semua anak berkeluarga dan mempunyai cucu). Biasanya akan dipanggil satu-persatu, antara lain : Bonaniari, Bonatulang, Tulangrorobot, Tulang, Tunggane, dengan sebutan hula-hula.

Disebutkan, Naso somba marhula-hula, siraraon ma gadong na. Gadong dalam masyarakat Batak dianggap salah satu makanan pokok pengganti nasi, khususnya sebagai sarapan pagi atau bekal/makan selingan waktu kerja (tugo).
Siraraon adalah kondisi ubi jalar (gadong) yang rasanya hambar. Seakan-akan busuk dan isi nya berair. Pernyataan itu mengandung makna, pihak yang tidak menghormati hula-hula akan menemui kesulitan mencari nafkah.

Dalam adat Batak, pihak borulah yang menghormati hula-hula. Di dalam satu wilayah yang dikuasai hula-hula, tanah adat selalu dikuasai oleh hula-hula. Sehingga boru yang tinggal di kampung hula-hulanya akan kesulitan mencari nafkah apabila tidak menghormati hula-hulanya. Misalnya, tanah adat tidak akan diberikan untuk diolah boru yang tidak menghormati hula-hula (baca elek marboru).

2. Manat Mardongan Tubu.
Dongan tubu dalam adat Batak adalah kelompok masyarakat dalam satu rumpun marga. Rumpun marga suku Batak mencapai ratusan marga induk. Silsilah marga-marga Batak hanya diisi oleh satu marga. Namun dalam perkembangannya, marga bisa memecah diri menurut peringkat yang dianggap perlu, walaupun dalam kegiatan adat menyatukan diri. Misalnya: Si Raja Guru Mangaloksa menjadi Hutabarat, Hutagalung, Panggabean, dan Hutatoruan (Tobing dan Hutapea). Atau Toga Sihombing yakni Lumbantoruan, Silaban, Nababan dan Hutasoit.

Dongan Tubu dalam adat batak selalu dimulai dari tingkat pelaksanaan adat bagi tuan rumah atau yang disebut Suhut. Kalau marga A mempunyai upacara adat, yang menjadi pelaksana dalam adat adalah seluruh marga A yang kalau ditarik silsilah ke bawah, belum saling kimpoi.

Gambaran dongan tubu adalah sosok abang dan adik. Secara psikologis dalam kehidupan sehari-hari hubungan antara abang dan adik sangat erat. Namun satu saat hubungan itu akan renggang, bahkan dapat menimbulkan perkelahian. seperti umpama “Angka naso manat mardongan tubu, na tajom ma adopanna’. Ungkapan itu mengingatkan, na mardongan tubu (yang semarga) potensil pada suatu pertikaian. Pertikaian yang sering berakhir dengan adu fisik.

Dalam adat Batak, ada istilah panombol atau parhata yang menetapkan perwakilan suhut (tuan rumah) dalam adat yang dilaksanakan. Itulah sebabnya, untuk merencanakan suatu adat (pesta kimpoi atau kematian) namardongan tubu selalu membicarakannya terlebih dahulu. Hal itu berguna untuk menghindarkan kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan adat. Umumnya, Panombol atau parhata diambil setingkat di bawah dan/atau setingkat di atas marga yang bersangkutan.

3. Elek Marboru

Boru ialah kelompok orang dari saudara perempuan kita, dan pihak marga suaminya atau keluarga perempuan dari marga kita. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah elek marboru yang artinya agar saling mengasihi supaya mendapat berkat(pasu-pasu). Istilah boru dalam adat batak tidak memandang status, jabatan, kekayaan oleh sebab itu mungkin saja seorang pejabat harus sibuk dalam suatu pesta adat batak karena posisinya saat itu sebagai boru.

Pada hakikatnya setiap laki-laki dalam adat batak mempunyai 3 status yang berbeda pada tempat atau adat yg diselenggarakan misalnya: waktu anak dari saudara perempuannya menikah maka posisinya sebagai Hula-hula, dan sebaliknya jika marga dari istrinya mengadakan pesta adat, maka posisinya sebagai boru dan sebagai dongan tubu saat teman semarganya melakukan pesta.
 

7 Partuturan dalam satu Garis Keturunan Batak

HoRaS HaBaTaKoN ! 
 
 
Dalam stuktur atau susunan Tarombo (silsilah) hanya tujuh Generasi yang mempunyai Pertuturan (panggilan) dalam satu garis keturunan yaitu :
  1. Ompu : Nenek moyang yaitu semua genarasi mulai dari tiga generasi diatas kita.
  2. Ompung : Kakek, yaitu orang yang dua generasi diatas kita
  3. Amang : Ayah, yaitu yang satu generasi diatas kita
  4. Haha Anggi : Abang Adik yaitu orang yang segenerasi dengan kita
  5. Anak : Anak yaitu orang yang saatu generasi di bawah kita
  6. Pahompu : Cucu, yaitu orang yang dua generasi di bawah kita.
  7. Nini : Cicit yaitu orang yang mulai tiga generasi di bawah kita.

Legenda Tunggal Panoluan

HoRaS HaBaTaKoN ! 

Legenda Tunggal Panoluan

Konon di Sianjur Mula-mula, tinggallah seorang laki-laki Gagah dan perkasa beliau bernama Guru Hatia Bulan. Beliau adalah seorang dukun, Datu Pangarata, Datu Pangatiha yang bergelar ‘Datu Arakni Pane Nabolon’. Istrinya bernama Nan Sindak Panaluan.



Telah sekian lama mereka menikah, tetapi  mereka belum juga di karuniai keturunan. Suatu ketika perempuan itu (Nan Sindak Panaluan) hamil setelah begitu lamanya mereka menunggu. Kehamilan tersebut membuat heran semua penduduk kampung itu dan menganggap keadaan itu hal yang gaib (aneh). Bersamaan pada saat itu juga sedang terjadi musim kemarau yang berkepanjangan dan paceklik, cuaca sangat panas dan kering, dengan demikian permukaan tanah dan rawa-rawa pun menjadi retak-ratak dan keras.

Dengan keadaan kemarau yang masih panas yg masih terjadi saat ini, membuat Pemuka (tokoh Masyarakat) kampung itu menjadi risau, lalu mereka pergi menjumpai Guru Hatia Bulan dan berkata kepadanya :
“Mungkin ada baiknya kita mencari sebabnya dan bertanya kepada Debata Mulajadi Nabolon, mengapa panas dan kemarau ini masih terus berkepanjangan, hal ini sangat jarang terjadi sebelumnya”.

Lalu Guru Hatimbulan menjawab :
”Semua ini mungkin saja terjadi”
Tokoh masyarakat mengatakan :
”Semua orang kampung heran mengapa istrimu begitu lama baru hamil, mereka berkata bahwa kehamilannya itu sangat ganjil”

Karena percakapan itu maka timbullah pertengkaran diantara mereka, tetapi tidak sampai ada perkelahian, hanya selisih paham saja.

Di lain waktu tiba saatnya istri Guru Hatia Bulan melahirkan, perempuan itu melahirkan anak kembar, seorang anak laki-laki dan perempuan.
Dengan kelahiran anak kembar tersebut, seketika itu juga hujan turun dgn lebatnya, maka semua tanam-tanaman dan pepohonan nampak segar kembali dan keadaan menjadi hijau lagi. Dengan perasaan senang Guru Hatia Bulan memotong seekor lembu untuk merayakan hal tersebut dan serta-merta untuk menghalau kuasa jahat.

Ia juga mengundang semua penatua-penatua dan kepala-kepala kampung dalam perjamuan itu, dimana nama anak-anak itu akan di umumkan putranya diberi nama Si Aji Donda Hatahutan dan putrinya itu di beri nama Si Boru Tapi Nauasan.

Usai pesta tersebut, ada beberapa tamu yg telah menasehatkan Guru Hatia Bulan supaya anak-anak itu jangan kiranya di asuh bersama-sama, yang satu kiranya di bawa ke barat dan yang satu lagi di bawa ke timur, sebab anak itu lahir kembar, dan juga berlainan jenis kelamin, hal ini sangat tidak menguntungkan menurut kata orangtua dulu.

Guru Hatia Bulan tidak memandang serta memperhatikan nasehat dari para penatua dan kepala kampung itu. Setelah sekian lama terbuktilah apa yang dinasehatkan oleh para penatua itu, benar apa adanya. Dilain waktu, Guru Hatia Bulan pergi ke lereng Pusuk buhit dan membuat sebuah gubuk di sana, dan membawa anak-anaknya kesana.

Gubuk itu dijaga dengan seekor anjing dan setiap hari Guru Hatia Bulan membawakan makanan untuk anaknya tersebut. Setelah anak-anaknya bertumbuh menjadi besar, pergilah putrinya jalan-jalan ke hutan lalu dilihatnya sebuah pohon yaitu pohon piu-piu tanggulon (hau tadatada), pohon yang batangnya penuh dengan duri, dan mempunyai buah yang masak & manis.

Melihat buah pohon itu, maka timbullah hasratnya untuk memakannya, tetapi sebelum dia naik ke pohon itu, dia mengambil beberapa buah itu dan memakannya. Pada saat itu juga, dia tertelan dan menjadi satu dgn pohon itu hanya kepalanya saja yg terlihat (tersisa). Di tempat lain abangnya Si Aji Donda Hatahutan gelisah menunggu adiknya pulang, kenapa sampai sore belum juga pulang-pulang adiknya. Diapun pergi ke dalam hutan untuk menyelidikinya sambil berteriak memanggil-manggil nama adiknya itu. Saat dia sudah merasa letih, tiba-tiba dia mendengar jawaban dari adiknya dari pohon yg berdekatan dengan dia, dan adiknya menceritakan apa yang terjadi, sehingga dia tertelan oleh pohon tersebut.

Si Aji Donda memanjat pohon itu, tetapi dia pun ikut ditelan dan menjadi satu dengan pohon itu. Keduanya menangis untuk meminta tolong, tetapi suara mereka hilang begitu saja di dalam gelapnya hutan. Keesokan paginya, anjing mereka lewat dan meloncat-loncat pada pohon tada-tada itu, lalu anjing itupun mengalami hal yang sama, tertelan oleh pohon itu hanya kepalanya saja yang terlihat.

Seperti biasa si Guru Hatia Bulan datang ke gubuk anaknya untuk membawakan mereka makanan, tapi dia tidak menemui mereka, lalu dia mencari dan mengikuti jejak kaki anaknya ke dalam hutan, sampai pada akhirnya dia menemui pohon duri tada-tada tersebut dan dimana dia hanya melihat kepala dua orang anak-anaknya dan anjing penjaga. Melihat hal itu diapun menjadi sedih.

Dia menceritakan ini pada kawannya maka kawannya mempertemukan dia dengan seorang datu yg bernama Datu Parmanuk Koling, dia menceritakan kejadian itu dan mengajak datu itu ke pohon tadi untuk menolong anaknya, diiringi oleh banyak orang yg ingin melihat, karena kejadian ini sudah tersebar ke berbagai pelosok dan pemusik pun sudah dipanggil lalu si Datu memulai ritualnya, si datu berdoa dan membaca mantra untuk membujuk roh yang menawan anak si Guru Hatia Bulan, setelah upacara selesai maka naiklah si Datu Parmanuk koling ke pohon itu, tetapi hal yg sama juga terjadi, dia tertelan oleh pohon itu. Guru Hatia Bulan dan para rakyat kembali ke rumah mereka dengan hati kecewa, tetapi mereka tidak putus asa, mereka tetap berusaha mencari jalan keluarnya dengan mencari datu lain.

Kemudian Guru Hatia Bulan mendengar kabar ada datu yang masyur, namanya Guru Marangin Bosi atau Datu Mallantang Malitting. Orang itu pergi ke pohon tersebut, tetapi mengalami nasib yang sama juga.

Kemudian ada juga datang Datu Horbo Marpaung, dia juga menjadi tawanan si pohon itu. Hal yang sama juga terjadi kepada  Si Aji Bahir (Jolma so Begu) yang mana setengah manusia dan setengah roh, juga pada Datu  Si Baso Bolon. Seekor ular panjangpun meloncat juga di telan pohon itu.

Guru Hatia Bulan sudah kehabisan akal karena ia telah mengeluarkan begitu banyak uang untuk keperluan pemusik (gondang), pele-pelean, dan semua yang diminta para datu itu untuk roh yang ada di pohon tersebut.

Beberapa hari setelah itu, seorang datu, bernama Si Parpansa Ginjang memberitahukan pada Guru Hatia Bulan bahwa dia dapat membebaskan kedua anaknya dari tawanan pohon itu, Asalkan Guru Hatia Bulan mempercayai omongan si datu itu dan menyediakan semua apa yang diminta oleh si datu.
Si datu berkata bahwa kita harus memberikan persembahan kepada semua roh, roh tanah, roh air, roh kayu dan lainnya baru kemudian bisa membebaskan kedua anak tersebut.

Guru Hatia Bulan mempersiapkan semua yang diperlukan oleh si datu untuk upacara tersebut sesuai dengan arahan si datu. Sesuai Petunjuk Datu mereka pergi menemui pohon itu disertai oleh orang kampung sekitarnya. Setelah si datu selesai memberikan mantra kepada senjata wasiatnya, lalu dia menebang pohon itu tetapi semua kepala orang yang ada di pohon tersebutpun jadi menghilang, begitu juga anjing dan ular yang tertelan pohon tersebut tadi. Semua orang yang menyaksikan seperti terperanjat, lalu si datu berkata kepada Guru Hatia Bulan: “Potonglah pohon itu menjadi beberapa bagian dan ukirlah gambaran dari orang-orang yg ditelan oleh pohon ini”.
Guru Hatia Bulan memotong batang pohon itu menjadi beberapa bagian dan mengukirnya menjadi sebuah tongkat dengan bentuk 5 orang lelaki, 2 orang anaknya, 1 seperti manusia seekor anjing dan seekor ular.

Setelah selesai mengukir tongkat tersebut sesuai dengan wajahnya, maka semua orang kembali ke kampung Guru Hatia Bulan, ketika mereka tiba di kampung ditandai dengan bunyi gong, Dia juga mengorbankan seekor lembu untuk menghormati mereka yang di ukir dalam tongkat tersebut. Setelah Guru Hatia Bulan selesai manortor maka tongkat itu diletakkan membelakangi muka lumbung padi. Sekarang Giliran datu Parpansa Ginjang manortor (menari), melalui tortor ini dia kesurupan, dirasuki roh-roh dari orang-orang yang pernah ditelan pohon itu dan mulai berbicara satu-persatu, mereka adalah roh dari:
1. Si Aji Donda Hatahutan.
2. Siboru Tapi Nauasan.
3. Datu Parmanuk Koling yaitu Datu Pulo Punjung nauli.
4. Guru ManggantarPorang yaitu Guru MaranginBosi Si Datu Mallatang-maliting.
5. Si Sanggar Meoleol yaitu Datu Horbo Paung.
6. Si Upar mangalele yaitu Datu Siparjambulan Melbus-elbus.
7. Barita Songkar Pangururan yaitu Si Aji Bahir (Jolma So Begu).
8. Datu Si Baso Bolon.
9. Anjing dan ular

Dan mereka berkata, “Wahai bapak pemahat, kau telah membuat ukiran dari wajah kami semua dan kami punya mata, tetapi tidak bisa melihat, kami punya mulut tetapi tidak bisa bicara, kami punya telinga tapi tidak mendengar, kami punya tangan tapi tidak bisa menggenggam, kami mengutuk kamu, wahai pemahat!. Si datu menjawab, “Jangan kutuk aku, tetapi kutuklah pisau ini tanpa pisau ini aku tidak dapat mengukir wajah kalian”. Tetapi si pisau berbalik membalas, “Jangan kutuk aku, tetapi kutuklah si tukang besi, kalau saja dia tidak menempa aku menjadi pisau, aku tidak akan pernah menjadi pisau”. Si tukang besi pun tidak ingin disalahkan lalu berkata, “Jangan kutuk aku tapi kutuklah Angin, tanpa angin aku tidak dapat menempa besi”. Angin pun menjawab,”Jangan kutuk kami tapi kutuklah si Guru Hati Bulan”. ketika semua tertuju pada Guru Hati Bulan, maka roh itu berkata melalui si datu, “Aku mengutukmu, Ayah dan juga kamu Ibu, yaitu yang melahirkan aku”.

Ketika Guru Hatimbulan mendengar itu, dia menjawab balik, “Jangan kutuk aku tetapi kutuklah dirimu sendiri. Kau yang jatuh ke dalam lubang dan terbunuh oleh pisau dan kamu tidak mempunyai keturunan”.

Lalu Roh itu berkata: “Baiklah, biarlah begini adanya, ayah, dan gunakanlah aku untuk: menahan hujan, memanggil hujan pada waktu musim kering, senjata di waktu perang, mengobati penyakit, menangkap pencuri, dan menghalau wabah Penyakit”.

Setelah upacara itu, maka pulanglah mereka masing-masing. Adapun tinggi tongkat Tunggal Panaluan sekitar 170-179 cm dan biasanya dimiliki oleh Datu Bolon (dukun besar) yang punya ilmu cukup tinggi.

 

BENDA – BENDA PUSAKA BATAK

HoRaS HaBaTaKoN ! 

BENDA – BENDA BERSEJARAH/PUSAKA BATAK

1. Solam Mulajadi.
Solam Mulajadi atau Pisau Mulajadi adalah pisau yang dibawa Debata Asi-asi dari banua ginjang (Benua atas). Pisau ini adalah himpunan seluruh pengetahuan orang batak, sebab pisau ini berisi aksara batak 19+7 pengetahuan.


2. Piso Sipitu Sasarung
Piso Sipitu Sasarung adalah pisau yang mana dalam 1 sarung terdapat 7 buah pisau di dalamnya. Pada zaman dahulu kala setelah gunung pusuk buhit meletus 73.000 tahun yang lalu seorang keturunan Siraja Batak bernama Raja Batorusan yang selamat dari musibah tersebut pergi ke gunung pusuk buhit yang sekarang dan diatas gunung tersebut ada sebuah telaga. Setibanya di telaga tersebut dia melihat 7 orang putri turun dari langit dan mandi di telaga tersebut.

Raja Hatorusan pun tercengang dan heran. Maka iapun mencuri pakaian salah satu dari purti tersebut, sehingga putri tersebut pun tidak dapat terbang lagi ke langit dan iapun mempersuntingnya menjadi istrinya.

Dari legenda inilah awal dari Piso Sipitu Sasarung yang mana melambangkan Tujuh Kekuatan yang dibawah oleh Putri Kayangan dari Banua Ginjang untuk bekal hidup Siraja Batak yang baru.


3. Piso Silima Sasarung
Pisau inilah pisau 1 sarung tetapi di dalamnya ada 5 buah mata pisau. Di dalam pisau ini berisikan kehidupan manusia, dimana menurut orang batak manusia lahir kedunia ini mempunyai 4 roh, kelima badan (wujud). Maka dalam ilmu meditasi untuk mendekatkan diri kepada Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) harus lebih dulu menyatukan 4 roh, kelima badan.


4. Piso Sitolu Sasarung
Piso Sitolu Sasarung adalah pisau yang mana dalam 1 sarung ada 3 buah mata pisau. Pisau ini melambangkan kehidupan orang batak yang menyatu 3 benua. Benua atas, benua bawah dan benua tonga, Juga melambangkan agar Debata Natolu, Batara Guru merupakan kebijakan, Batara Sori merupakan keimanan & kebenaran Batara Bulan merupakan kekuatan tetap menyertai orang batak dalam kehidupan sehari-hari.


5. Piso Siseat Anggir

Piso ini biasa digunakan pada saat membuat obat atau ilmu. Piso ini bertujuan hanya untuk memotong anggir (jeruk purut).


6. Sunggul Sohuturon
Sunggul Sohuturon ini terbuat dari rotan yang di anyam berbentuk keranjang sunggul ini bertujuan untuk memanggil roh manusia yang lari atau roh yang diambil oleh keramat.


7. Pukkor Anggir
Pukkor Anggir ini digunakan untuk menusuk anggir dan mendoakannya pada saat menusuk sebelum anggir tersebut di potong.


8. Tutu
Tutu ini bertujuan untuk menggiling ramuan-ramuan obat yang hendak digunakan pada orang sakit.


9. Sahang
Sahang ini adalah yang terbuat dari gading gajah. Sahang ini digunakan tempat obat yang mampu mengobati segala jenis penyakit manusia.


10. Gupak
Gupak ini biasanya digunakan memotong obat yang jenisnya keras seperti akar-akaran, kayu-kayuan dan lain-lain.


11. Piso Halasan
Piso Halasan adalah pedang sakti yang berisikan :
“Yang tak mempunyai keturunan menjadi mempunyai keturunan sekaligus pisau Raja Sorimangaraja. Pisau Raja mendatangkan rejeki dalam kehidupan. Legenda Pisau Halasan:

Pada zaman dahulu seorang raja yang merantau ke kota Balige sudah lama tak mempunyai keturunan. Dengan demikian dia memanggil seorang anak sakti untuk menolong dia bagaimana caranya agar dia mempunyai keturunan. Maka anak sakti tersbeut menyatakan :

“Ambil besi dari dalam batu kemudian tempahlah besi tersebut dan buatlah pedangmu dan sebutlah namanya Piso Halasan, maka kau akan mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Dengan tulus hati Tuan Sorimangaraja melaksanakannya dengan menggunakan petir untuk memecahkan batu yang besar, diapun mendapatkan besi tersebut dan menempahnya menjadi pisau. Demikianlah asal-muasal Pisau Halasan.


12. Piso Tobbuk Lada
Piso Tombuk Lada adalah Pisau Kecil yang biasa digunakan untuk memotong dan mengiris ramuan obat.


13. Hujur Siringis
Hujur Siringis adalah sebuah tombak sakti yang biasa digunakan para panglima perang.


14. Tukkot Sitonggo Mual
Tukkot Sitonggo Mual adalah Tongkat sakti Siraja Batak yang mana pada zaman dulu dalam perjalanan apabila air tidak ada jika tongkat ini ditancapkan ke tanah maka mata air akan keluar.


15. Piso Solam Debata
Piso Solam Debata adalah sebuah pisau kecil Siraja Batak yang biasa dipakai oleh seorang Raja dan apabila dia berbicara atau memerintah, maka semua manusia akan menurut. Pisau ini hanya dipakai oleh seorang raja.


16. Piso Gaja Doppak

Piso Gaja Doppak ini adalah pisau pedang seorang raja yang mana apabila pisau ini dipakai, maka segala penghambat didepan, disamping, dibelakang akan jauh. Biasa pisau ini dipakai oleh Raja pada saat berjalan atau keluar daerah.




 

Suhi ni Ampang na Opat - dalam Pesta Perkawinan

HoRaS HaBaTaKoN ! 


Pada pesta perkawinan yang mutlak (martohonan) adalah Suhi ni Ampang Naopat : yaitu :

1. Pihak Paranak (pengantin laki-laki) yang menerima ulos :
  • Ulos Pansamot : Orangtua pengantin
  • Ulos Paramaan/Pamarai : Abang / adik orangtua pengantin
  • Ulos Todoan : Abang Adik dari Ompung suhut pengantin
  • Ulos Sihunti Ampang : saudara perempuan dari Pengantin (ito) atau saudara perempuan dari orangtua pengantin (Namboru)
2. Pihak Parboru (pengantin wanita) yang menerima sinamot :
  • Si jalo bara / Pamarai : Abang / adik dari pengantin
  • Si jalo upa tulang : Tulang dari Pengantin
  • Si jalo Todoan : abang / adik Ompung Suhut pengantin atau Simandokkon yaitu ito Pengantin (disesuai Hasuhuton & Tonggo Raja)
  • Si jalo Upa Pariban : kakak atau Namboru Pengantin

Dalihan Natolu sebagai system kekerabatan orang batak ternyata mempunyai nilai yang tidak kalah dengan system lain yang sangat populer saat ini, yaitu Demokrasi. “Dalihan Natolu” ini melambangkan sikap hidup orang batak dalam bermasyarakat. Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (bahasa Toba) atau TOLU SAHUNDULAN (bahasa Simalungun). Dalihan dapat diterjemahkan sebagai “tungku” dan “sahundulan” sebagai “posisi duduk”. Keduanya mengandung arti yang sama, ‘3 POSISI PENTING’ dalam kekerabatan orang Batak yang terdiri dari :
  1. HULA HULA atau TONDONG, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di atas”, yaitu keluarga marga pihak istri. Relasinya disebut SOMBA SOMBA MARHULA HULA yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri. “Hula-Hula” adalah Orang tua dari wanita yang dinikahi oleh seorang pria, namun hula-hula ini dapat diartikan secara luas. Semua saudara dari pihak wanita yang dinikahi oleh seorang pria dapat disebut hula-hula. Marsomba tu hula-hula artinya seorang pria harus menghormati keluarga pihak istrinya. Dasar utama dari filosofi ini adalah bahwa dari fihak marga istri lah seseorang memperoleh “berkat” yang sangat didominasi oleh peran seorang istri dalam keluarga. Berkat hagabeon berupa garis keturunan, hamoraon karena kemampuan dan kemauan istri dalam mengelola keuangan bahkan tidak jarang lebih ulet dari suaminya, dan dalam hasangapon pun peran itu tidak kurang pentingnya. Somba marhulal-hula supaya dapat berkat.
  2. BORU, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di bawah”, yaitu saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Boru adalah anak perempuan dari suatu marga, misalnya boru Hombing adalah anak perempuan dari marga Sihombing. Prinsip hubungan nya adalah ELEK MARBORU artinya harus dapat merangkul boru/sabar dan tanggap. Dalam kesehariannya, Boru bertugas untuk mendukung/membantu bahkan merupakan tangan kanan dari Hula-hula dalam melakukan suatu kegiatan. Sangat diingat oleh filosofi ELEK MARBORU, bahwa kedudukan “di bawah” tidak merupakan garis komando, tetapi harus dengan merangkul mengambil hati dari Boru - nya
  3. DONGAN TUBU atau SAINA, yaitu kelompok orang-orang yang posisinya “sejajar”, yaitu: teman/saudara semarga. Prinsip Hubungannya adalah MANAT MARDONGAN TUBU, artinya HATI-HATI menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.

Dalihan Na Tolu ini menjadi pedoman hidup orang Batak dalam kehidupan bermasyarakat.Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut; ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi BORU. Dengan Dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat. Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal.

Namun ada beberapa hal negatif dari budaya batak yang harus kita tinggalkan, misalnya budaya banyak bicara sedikit bekerja. Memang orang batak terkenal pintar berbicara. Hal ini terlihat dari banyaknya pengacara-pengacara batak yang sukses. Akan tetapi kepintaran berbicara ini sering disalahgunakan untuk membolak-balikan fakta. Yang hitam bisa jadi putih dan yang putih bisa jadi hitam ditangan pengacara batak (walaupun tidak semua). 

Hal lain yang negatif adalah budaya “HoTeL”. HoTeL adalah singkatan dari: Hosom yang artinya dendam. Konon orang batak suka mendendam sesama saudara. Teal yang artinya sombong, yang dapat terlihat dari cara bicara, sikap hidup, dll. Late yang artinya Iri Hati. 

Apakah HoTeL ini hanya ada pada orang Batak saja? Kita sebagai generasi muda harus dapat mempertahankan budaya yang positif dan meninggalkan yang negatif.

Haminjon (Kemenyan) Tanaman Purba di Tanah Leluhur Batak

HoRaS HaBaTaKoN ! 

Haminjon (Kemenyan) Tanaman Purba di Tanah Leluhur Batak

Sebuah benda berbentuk kristal keruh berwarna coklat maupun putih yang biasa di bakar mengiringi ritual keagamaan dan tradisi adat istiadat. Benda tersebut dinamai dengan getah kemenyan. Getah ini dihasilkan dari pemotongan kulit pohon serta memiliki bau wangi semerbak.

Tanaman ini dikategorikan sebagai tanaman endemik, yang hanya dapat tumbuh di beberapa kawasan saja. Sehingga tidak jarang jika banyak masyarakat menilai bahwa tanaman ini adalah jenis tanaman sakral yang memiliki nilai mitologi yang sangat tinggi. Banyak anggapan bahwa kemenyan adalah sebuah benda yang memiliki keterkaitan dengan mistik.

Salah satu kawasan yang dapat ditumbuhi kemenyan adalah kawasan Humbang Hasundutan (Humbahas). Sejarah membuktikan bahwa daerah Humbahas adalah penghasil kemenyan sejak berabad-abad lalu. Dulunya, kemenyan adalah salah satu komoditas unggulan. Dengan areal tanaman seluas 5000 hektar lebih dengan produksi 1.278 ton per tahun. Namun saat ini kemenyan sudah mengalami kemerosotan produksi yang sangat drastis. Hal ini diperkirakan oleh berbagai pihak karena kerusakan hutan. Sebab kemenyan dan populasinya tidak dapat dipisahkan dari hutan.
 

Disisi lain, nilai ekonomi kemenyan sangat tinggi. Catatan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa kemenyan diperdagangkan sejak ribuan tahun lalu. Bahkan arkelogis menunjukkan adanya kemenyan yang ditemukan di dalam makam Tutankhamun raja Mesir kuno yang meninggal pada 1323 SM. (Baringin Lumban Gaol).

Nah, menyusul pada sebuah berita lalu tentang Sejarah Kemenyan Difilmkan, yang dikerjakan oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tano Batak, berikut dapat kita saksikan trailer dari film dokumentasi tersebut. Secara keseluruhan film dokumenter ini akan menggambarkan sebuah dokumentasi tentang sejarah dan keterkaitannya dalam adat istiadat di Tanah Batak.


Dalihan Na Tolu dan Budaya Kerja

Dalihan Na Tolu merupakan identitas etnis Batak. Dalam buku “Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba” ditulis J.C Vergouwen menyebutkan, Dalihan Na Tolu adalah unsur kekerabatan warga masyarakat Batak. Maka setiap sub-etnis Batak memiliki garis penghubung satu sama lain.Dalihan Na Tolu dari sisi bahasa berarti tungku yang berkaki tiga, saling menyokong. Tanpa ada yang lebih tinggi. Dalihan Na Tolu dalam status dan peranan seseorang berbeda nama sama, memang agak paradoks.

Adalah; Hulahula disebut pihak istri atau ibu. Dongan Sabutuha berarti semarga atau selevel. Dan, pihak Boru adalah pihak yang menerima anak perempuan hulahula. Terangkum somba marhulahula, elek marboru, manat mardongan tubu. Masing-masing saling menghormati: pihak hulahula, mawas terhadap saudara semarga dan membujuk rayu, melindungi, mengayomi (boru) putri.

Sistim sosial ini menjadi filosofi, dan terlihat dalam upacara adat. Setiap unsur memiliki hak dan kewajiban yang berbeda, namun pada prinsipnya sama. Setiap orang Batak menduduki ketiga status ini, pada saat tertentu dia bisa boru, hulahula, dan dongantubu. Jadi tidak selamanya posisi boru melekat. Paradoks tadi, ia bisa menjadi boru bisa menjadi hulahula—di adat borunya.

Dari sisi religi, Dalihan Na Tolu menggambarkan relasi manusia dengan sang pencipta. Yang disebut banua toru, banua tonga dan banua ginjang. DR.Philip.O.Tobing dalam bukunya The Structure of the Toba Batak Belief in the High God (1963) menyebutkan, Batara Guru, Bala (Mangala) Sori, dan Bala (Mangala) Bulan adalah representasi dari masing-masing hulahula, dongan-sabutuha dan boru.

Di lima sub-etnis Batak; Karo, Pakpak, Simalungun, Mandailing/Angkola, Toba. Dalihan Na Tolu memiliki persamaan. Toba; Dongan Sabutuha, Hulahula, Boru. Sedangkan Simalungun menyebutnya Tolu Sahundulan; yang berarti Tondong (Toba=Hula-hula), Sanina (Dongan Sabutuha), Boru (boru).

Sementara di Karo menyebut, Daliken Sitelu atau Rakut Sitelu. Istilah Daliken Sitelu berarti tungku yang tiga. Daliken berarti batu tungku, sementara Si samadengan Telu tiga. Menunjuk pada esensi kehidupan sehari-hari. Yang juga mengambarkan ada ikatan setiap individu Karo tidak lepas dari tiga kekerabatan tersebut. Unsur Daliken Sitelu ini adalah; Kalimbubu (Toba;Hula-hula), Sembuyak atau Senina (Dongan sabutuha), AnakBeru (Boru).

Sama juga di Mandailing/Angkola sistim kekerabatan itu menunjukkan arti tumpuan, menunjuk pada hakekatnya yang didukung oleh kata dalian. Dalian berarti tumpuan mendasar pada budaya. Tumpuan Yang Tiga bagi kelangsungan hidup masyarakat Mandailing/Angkola. Mereka menyebut Mora (Toba; Hula-hula), Anakboru (boru), Hahanggi (Sabutuha).


Etos Habatahon


Meminjam istilah Guru Etos Indonesia Jansen Sinamo menyebutkan, Etos Habatahon berasal dari Unok ni partondian, Parhatian Sibola Timbang, Parninggala Sibola Tali, Pamoru Somarumbang, Parmahan So Marbatahi. Etos Habatahon dalam Batak Toba bisa dilihat dari motto Anakhonhi Do Hamoraon di Ahu. Etos yang mendorong Toba identik pekerja keras. Ditambah budaya 3H Hamoraan, Hagabeon, Hasangapon. Demi kekayaan, status sosial mereka dipacu menjadi sedikit ambisius dari sub-eknis.

Etos kerja Simalungun terlihat dari nilai-nilai sehari-hari semboyang Habonaron Do Bona. Yang berarti segala tindakan dilandasi dengan kebenaran. Filosofi tersebut mendorong Simalungun bertindak benar berlandaskan azas yang benar pula. Hal itu terpancar dari sifat penuh kehatihatian dalam pekerjaan.

Filosofi kerja Pakpak; Ulang Telpus Bulung. Bisa diartikan daun jangan sampai terkoyak atau bocor, daun yang dimaksud daun pisang yang dipakai sebagai alas makanan pengganti piring (pinggan pasu). Ulang Telpus Bulung menekankan berani berkorban. Dalam budaya kerja sifat ini perlu ada.

Etos kerja orang Mandailing/Angkola terlihat dari sisitim “Marsialap Ari” adalah etos kerja yang selalu didukung dengan team work. Masyarakat Mandailing/Angkola terlihat pekerja telaten, sabar, dan pekerja keras.

Sedangkan Sada Gia Manukta Gellah Takuak menjadi filosofi Karo. Artinya walaupun seseorang hanya memiliki seekor ayam, yang terpenting berkokok. Ayam berkokok simbol membangunkan orang untuk bagun pagi hari. Filosofi ini memotivasi masyarakat Karo gigih bekerja. Sifat ringan hati untuk berusaha.

Etos Habatahon didasari dari semangat kerja, yang diadopsi dari sistim nilai-budaya. Budaya yang berakar pada Dalihan Na Tolu tersebut berproses mejadi sebuah sistim nilai kerja. Etos Habatahon bisa dirasakan lewat alunan gondang. Gondang dengan paduan suaranya akan membawa suara yang indah, tetapi jika hanya dibunyikan satu alat musik saja tentu suaranya sumbang. Artinya ada etos team work. Dipaduan gondang itu. Ia indah takkala perpaduan suara gendang yang lain.

Etos Habatahon jika tinjau dari sisi budaya kerja sekuler berarti, mengerti posisi. Ada waktunya menjadi bos (hulahula), ada saatnya menjadi mitra kerja (Dongansabutuha), ada saatnya menjadi pesuruh, karyawan, karier terbawah (Boru).

Namun, sesungguhnya ketiga sistim tadi tidak bisa berdiri sendiri, harus kait mengkait. Hulahula (boss, pemimpin) harus mengayomi, memperhatikan boru (karyawan-nya). Dongansabutuha atau rekan kerja, sesama selevel harus saling menghargai, di depan bos. Boru (karyawan) harus menghargai pimpinan sebagai pemilik perusahaan. Artinya ada moral kerja tertanam di filosofi Dalihan Na Tolu.

Pakar Manajemen Rhenald Kasali mengatakan, dalam pekerjaan memang perlu ada moral (morale). Sebab, moral kerja itu adalah spirit yang mesti dimiliki setiap orang untuk hidup atau bekerja. Dengan moral kerja yang tinggi seorang percaya diri terhadap masa depan. Bekerja dengan etos kerja yang tinggi berarti pula membantu diri menemukan tujuan hidup. Terpacu karena mengerti posisi.

Karena itu, diperlukan semacam dekonstruksi identitas budaya bagi pemahaman filosofi budaya kerja. Agar pesan moral Dalihan Na Tolu menjadi watak, karakter, sifat budaya. Yang bisa menjelma menjadi etos kerja menunjang karier.

Menghargai kearifan budaya berarti mempunyai perangi etos kerja, sebagai budaya yang melekat pada setiap orang. Dan menumbuhkembangkan kearifan budaya masing-masing. Maka mutu dan produktifitas akan tumbuh.

Etos kerja budaya berarti berfikir menggunakan akal (karsa) dari kearifan budaya. Spirit kerja mendorong seseorang produktif, karena ada karsa menjelma menjadi sistim nilai. Kearifan budaya tersusun atas pikiran sadar dan bawah sadar kemudian menjadi filosofi. Kearifan Budaya mengajarkan kita saling menghargai, mengetahui posisi, porsi, dan kapasitas diri.

Kearifan budaya berkembang karena perkembangan paradigma masyarakat-nya. Jadi, mengapa malu memakai etos budaya dalam bekerja, sebab nilai-nilai budaya tidak kala baik dari semangat kapitalisme Barat. Jadi, filosofi Dalihan Na Tolu jika dihubungkan dengan budaya kerja akan menghasilkan etos (spirit) Habatahon.

Suku Bangsa Batak dan Konsep Kebudayaan Batak

Suku bangsa Batak adalah salah satu suku bangsa di Indonesia yang mendiami provinsi Sumatra Utara, tepatnya di wilayah Kangkat Hulu, Deli Hulu, Daratan Tinggi Karo, Serdang Hulu, Toba, Simalungun, Tapanuli Tengah, dan Mandailing.

Suku bangsa Batak terbagi menjadi 6 jenis, yakni suku Batak Toba, suku Batak Karo, suku Batak Pakpak, suku Batak Simalungun, suku Batak Angkola, dan suku Batak Mandailing. Keenam suku Batak tersebut memiliki ciri khas budaya yang berbeda-beda. Namun pada prinsipnya akar budaya mereka sama, yakni budaya Batak.

Asal Mula Suku Bangsa Batak

Tidak ada bukti kuat mengenai sejak kapan nenek moyang orang Batak mendiami wilayah Sumatra. Akan tetapi penelitian antropologi menunjukkan bahwa bahasa dan bukti-bukti arkeologis yang ada membuktikan hijrahnya penutur bahasa Austronesia dari Taiwan ke Indonesia dan Filipina. Ini terjadi sekitar 2.500 tahun silam. Bisa jadi mereka adalah nenek moyang suku bangsa Batak.

Tidak adanya artefak zaman Neolitikum yang ditemukan di wilayah suku Batak membuat para peneliti menyimpulkan bahwa nenek moyang suku Batak baru hijrah ke Sumatra Utara pada zaman logam. Selain itu, pedagang-pedagang internasional dari India mulai mendirikan kota dagang di Sumatra Utara pada abad ke-6.

Mereka berinteraksi dengan masyarakat pedalaman, yakni orang Batak dengan membeli kapur-kapur barus buatan orang Batak. Kapur barus buatan orang Batak dikenal bermutu tinggi.

Konsep Religi Suku Bangsa Batak - Debata Mulajadi Na Bolon

Di daerah Batak atau yang dikenal dengan suku bangsa Batak, terdapat beberapa agama, Islam dan Kristen (Katolik dan Protestan). Agama Islam disyiarkan sejak 1810 dan sekarang dianut oleh sebagian besar orang Batak Mandailing dan Batak Angkola.

Agama Kristen Katolik dan Protestan disyiarkan ke Toba dan Simalungun oleh para zending dan misionaris dari Jerman dan Belanda sejak 1863. Sekarang ini, agama Kristen (Katolik dan Protestan) dianut oleh sebagian besar orang Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungun, dan Batak Pakpak.

Orang Batak sendiri secara tradisional memiliki konsepsi bahwa alam ini beserta isinya diciptakan oleh Debata Mulajadi Na Bolon (Debata Kaci-kaci dalam bahasa Batak Karo).

Debata Mulajadi Na Bolon adalah Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki kekuasaan di atas langit dan pancaran kekuasaan-Nya terwujud dalam Debata Natolu, yaitu Siloan Nabolon (Toba) atau Tuan Padukah ni Aji (Karo).

Menyangkut jiwa dan roh, orang Batak mengenal tiga konsep yaitu sebagai berikut.
  • Tondi, adalah jiwa atau roh seseorang yang sekaligus merupakan kekuatannya.
  • Sahala, adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang.
  • Begu, adalah tondi yang sudah meninggal.


Konsep Ikatan Kerabat Patrilineal Suku Bangsa Batak

Perkawinan pada orang Batak merupakan suatu pranata yang tidak hanya mengikat seorang laki-laki atau perempuan. Perkawinan juga mengikat kaum kerabat laki-laki dan kaum kerabat perempuan.

Menurut adat lama pada orang Batak, seorang laki-laki tidak bebas dalam memilih jodoh. Perkawinan antara orang-orang rimpal, yakni perkawinan dengan anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya, dianggap ideal. Perkawinan yang dilarang adalah perkawinan satu marga dan perkawinan dengan anak perempuan dari saudara perempuan ayahnya.

Kelompok kekerabatan orang Batak memperhitungkan hubungan keturunan secara patrilineal, dengan dasar satu ayah, satu kakek, satu nenek moyang. Perhitungan hubungan berdasarkan satu ayah sada bapa (bahasa Karo) atau saama (bahasa Toba). Kelompok kekerabatan terkecil adalah keluarga batih(keluarga inti terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak).

Dalam kehidupan masyarakat Batak, ada suatu hubungan kekerabatan yang mantap. Hubungan kekerabatan itu terjadi dalam kelompok kerabat seseorang, antara kelompok kerabat tempat istrinya berasal dengan kelompok kerabat suami saudara perempuannya.

Tiap-tiap kelompok kekerabatan tersebut memiliki nama sebagai berikut.
  • Hula-hula; orang tua dari pihak istri, anak kelompok pemberi gadis.
  • Anak boru; suami dan saudara (hahaanggi) perempuan kelompok penerima gadis.
  • Dongan tubu; saudara laki-laki seayah, senenek moyang, semarga, berdasarkan patrilineal.

Konsep Pemimpin Politik Suku Bangsa Batak

Pada masyarakat Batak, sistem kepemimpinan terdiri atas tiga bidang.
  1. Bidang adat. Kepemimpinan pada bidang adat ini tidak berada dalam tangan seorang tokoh, tetapi berupa musyawarah Dalihan Na Tolu (Toba), Sangkep Sitelu (Karo). Dalam pelaksanaannya, sidang musyawarah adat ini dipimpin oleh suhut (orang yang mengundang para pihak kerabat dongan sabutuha, hula-hula, dan boru dalam Dalihan Na Tolu).
  2. Bidang agama. Agama Islam dipegang oleh kyai atau ustadz, sedangkan pada agama Kristen Katolik dan Protestan dipegang oleh pendeta dan pastor.
  3. Bidang pemerintahan. Kepemimpinan di bidang pemerintahan ditentukan melalui pemilihan.

Konsep Agrikultural Suku Batak - Marsitalolo dan Solu

Orang Batak bercocok tanam padi di sawah dengan irigasi. Pada umumnya, panen padi berlangsung setahun sekali. Namun, di beberapa tempat ada yang melakukan panen sebanyak dua atau tiga kali dalam setahun (marsitalolo).

Selain bercocok tanam, peternakan merupakan mata pencarian penting bagi orang Batak. Di daerah tepi danau Toba dan pulau Samosir, pekerjaan menangkap ikan dilakukan secara intensif dengan perahu (solu). Konsep Bahasa, Pengetahuan, dan Teknologi Suku Bangsa Batak

Bahasa, pengetahuan, dan teknologi adalah bentuk budaya dasar sebuah bangsa atau suku bangsa. Mari kita ulas ketiga aspek tersebut pada suku bangsa Batak.

1. Bahasa

Suku Batak berbicara bahasa Batak. Bahasa Batak termasuk ke dalam rumpun bahasa Melayu - Polinesia. Hampir setiap jenis suku Batak memiliki logat tersendiri dalam berbicara. Oleh karena itu bahasa Batak memiliki 6 logat, yakni logat Karo oleh orang Batak Karo, logat Pakpak oleh orang Batak Pakpak, logat Simalungun oleh orang Batak Simalungun, logat Toba oleh orang Batak Toba, Mandailing, dan Angkola.

2. Pengetahuan

Masyarakat suku Batak mengenal sistem gotong royong kuno, terutama dalam bidang bercocok tanam. Gotong royong ini disebut raron oleh orang Batak Karo dan disebut Marsiurupan oleh orang Batak Toba. Dalam gotong royong kuno ini sekelompok orang (tetangga atau kerabat dekat) bahu-membahu mengerjakan tanah secara bergiliran.

3. Teknologi

Teknologi tradisional suatu suku bangsa adalah bentuk kearifan lokal suku bangsa tersebut. Suku bangsa Batak terbiasa menggunakan peralatan sederhana dalam bercocok tanam, misalnya bajak (disebut tenggala dalam bahasa Batak Karo), cangkul, sabit (sabi-sabi), tongkat tunggal, ani-ani, dan sebagainya.


Teknologi tradisional juga diaplikasikan dalam bidang persenjataan. Masyarakat Batak memiliki berbagai senjata tradisional seperti hujur (semacam tombak), piso surit (semacam belati), piso gajah dompak (keris panjang), dan podang (pedang panjang).

Di bidang penenunan pun teknologi tradisional suku Batak sudah cukup maju. Mereka memiliki kain tenunan yang multifungsi dalam kehidupan adat dan budaya suku Batak, yang disebut kain ulos.
Konsep Marga dalam Suku Bangsa Batak


Dalam "Kamus Besar Bahasa Indonesia", kata 'marga' merupakan istilah antropologi yang bermakna 'kelompok kekerabatan yang eksogam dan unilinear, baik secara matrilineal maupun patrilineal' atau 'bagian daerah (sekumpulan dusun) yang agak luas (di Sumatra Selatan).

Marga adalah identitasnya suku Batak. Marga diletakkan sebagai nama belakang seseorang, seperti nama keluarga. Dari marga inilah kita dapat mengidentifikasi bahwa seseorang adalah benar orang Batak.

Ada lebih dari 400 marga Batak, inilah beberapa di antaranya:

Aritonang, Banjarnahor (Marbun), Baringbing (Tampubolon), Baruara (Tambunan), Barutu (Situmorang), Barutu (Sinaga), Butarbutar, Gultom,     Harahap, Hasibuan, Hutabarat, Hutagalung, Gutapea, Lubis, Lumbantoruan (Sihombing Lumbantoruan), Marpaung, Nababan, Napitulu, Panggabean,   Pohan, Siagian (Siregar), Sianipar, Sianturi, Silalahi, Simanjuntak, Simatupang, Sirait, Siregar, Sitompul, Tampubolon, Karokaro Sitepu, Peranginangin Bangun,  Ginting Manik, Sembiring Galuk, Sinaga Sidahapintu, Purba Girsang, Rangkuti, dan seterusnya klik disini!


Demikian informasi seputar suku bangsa Batak. Mari hargai perbedaan di Indonesia dengan tidak bersikap rasis pada suku bangsa apa pun dan agama apa pun.

PRODUK HERBAL INDONESIA



Sukses harus diraih karena dia tak mau datang begitu saja

HORAS . . . SIRAJABATAK - SOMBA MARHULA HULA - MANAT MARDONGAN TUBU - ELEK MARBORU - RINGKOT MAR ALE ALE

Amazon Deals